<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505</id><updated>2011-04-21T16:20:15.109-07:00</updated><title type='text'>Enlighten Your Mind!!!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505.post-3478784660651776523</id><published>2008-01-05T18:30:00.001-08:00</published><updated>2008-01-05T19:39:22.439-08:00</updated><title type='text'>Hukum Tentang Ikhtilath</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;hayatulislam.net - &lt;/span&gt;&lt;b style="font-family: verdana;"&gt;Soal:&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: verdana;"&gt;Bagaimana pandangan Islam terhadap ikhtilath, dan dimana saja kita bisa berikhtilath? Misalnya boleh ndak kita berikhtilath di sekolahan, pasar/tempat-tempat umum, dan seterusnya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p  style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; color: rgb(0, 0, 0);font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Ikthtilath&lt;/i&gt; adalah percampuran antara laki-laki dan wanita. &lt;i&gt;Ikhtilat&lt;/i&gt; adalah lawan dari &lt;i&gt;infishal&lt;/i&gt; (terpisah). &lt;span lang="es-ES"&gt;Pada dasarnya, Islam telah mewajibkan pemisahan antara wanita dan laki-laki. Pemisahan ini berlaku umum dalam kondisi apapun, baik dalam kehidupan umum maupun khusus, kecuali ada dalil-dalil yang mengkhususkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebgelum membahas tentang &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt;, kita mesti memahami terlebih dahulu kaedah-kaedah interaksi (&lt;i&gt;ijtima’&lt;/i&gt;) antara laki-laki dengan wanita. Kaedah interaksi antara seorang laki-laki dengan wanita dapat diuraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, jika suatu aktivitas memang mengharuskan adanya interaksi antara pria dan wanita, maka dalam hal semacam ini seorang laki-laki dan wanita diperbolehkan melakukan interaksi, namun hanya terbatas pada kepentingan itu saja. Sebagai contoh, adalah aktivitas jual beli. Di dalam aktivitas jual beli, mau tidak mau harus ada penjual dan pembeli. Harus ada pula kegiatan interaktif antara penjuual dan pembeli, misalnya bertanya tentang berapa harganya, barang apa yang hendak dibeli, boleh ditawar atau tidak, dan semua hal yang berkaitan dengan jual beli. Dalam keadaan semacam ini, maka seorang laki-laki dibolehkan berinteraksi dengan kaum wanita karena memang aktivitas tersebut mengharuskan adanya interaksi. Aktivitas tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa adanya interaksi. Demikian juga dalam hal kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan, perburuhan, pertanian, dan kegiatan-kegiatan lain yang mengharuskan adanya interaksi; maka dalam keadaan semacam ini seorang laki-laki diperbolehkan berinteraksi dengan seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, tatkala seorang laki-laki berinteraksi dengan seorang wanita dalam aktivitas-aktivitas seperti di atas, ia harus membatasi dirinya pada hal-hal yang hanya berhubungan dengan aktivitas tersebut. Ia dilarang (haram) melakukan interaksi dengan wanita tersebut di luar konteks perbuatan tersebut. Misalnya, tatkala seorang laki-laki hendak membeli buku kepada seorang penjual wanita, maka ia hanya diperbolehkan berinteraksi pada hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas jual beli buku itu saja. Tidak dibenarkan ia bertanya atau melakukan interaksi di luar konteks jual beli buku. Misalnya, ia menyatakan, “&lt;i&gt;Wah buku ini keren, seperti pembelinya.&lt;/i&gt;” Atau hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan jual beli. Namun jika seseorang telah usai melakukan jual beli, kemudian ia hendak bertanya arah jalan, misalnya, maka ia diperbolehkan bertanya hanya dalam hal-hal yang berhubungan dengan arah jalan itu saja, tidak boleh lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang patut diperhatikan adalah, meskipun seorang laki diperbolehkan berinteraksi dengan wanita dalam aktivitas-aktivitas semacam itu, akan tetapi ia tetap harus memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan &lt;i&gt;infishal&lt;/i&gt; (pemisahan). Misalnya, tatkala seseorang hendak membeli barang dari seorang wanita, maka ia tetap harus memperhatikan jarak. Ia tidak diperbolehkan berdekatan, atau malah memepet perempuan tersebut, atau misalnya duduk berhimpitan bersama perempuan penjual itu perempuan tersebut, tatkala hendak membeli barangnya. Meskipun dari sisi interaksi —dalam jual beli— diperbolehkan, akan tetapi, ia tetap harus memperhatikan ketentuan mengenai &lt;i&gt;infishal&lt;/i&gt; (pemisahan). Demikian pula tatkala berada di bangku sekolahan. Meskipun wanita dan laki-laki diperbolehkan berinteraksi dalam aktivitas semacam ini –belajar mengajar—akan tetapi keterpisahan tetap harus diperhatikan —dengan ukuran jarak. Sebab, kewajiban &lt;i&gt;infishal&lt;/i&gt; ini berlaku umum, lebih-lebih lagi dalam kehidupan umum. Oleh karena itu, tidak diperkenankan murid laki-laki dan wanita duduk bersama dalam sebuah bangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, jika suatu aktivitas sama sekali tidak mengharuskan adanya interaksi antara keduanya, maka seorang laki-laki dan perempuan tidak dibenarkan melakukan interaksi atau pertamuan dalam aktivitas tersebut. Contohnya, adalah bertamasya, berjalan ke sekolah, kedai, atau masjid. Seorang laki-laki diharamkan berjalan bersama-sama dengan wanita bukan mahramnya dan melakukan interaksi selama perjalanan tersebut. Sebab, interaksi dalam hal-hal semacam ini tidak dibenarkan, dan bukan merupakan pengecualian yang dibolehkan oleh syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; adalah campur baurnya laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya, &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; itu dibenarkan dalam aktivitas-aktivitas yang diperbolehkan oleh syara’. &lt;/span&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;Terutama aktivitas yang di dalamnya mengharuskan adanya interaksi (aktivitas model pertama). Misalnya, bercampur baurnya laki-laki dan wanita dalam aktivitas jual beli, atau ibadah haji (&lt;b&gt;Taqiyuddin an-Nabhani&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;an-Nidzam al-Ijtimaa’iy fi al-Islaam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, hal. 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;an-Nidzam al-Ijtimaa’iy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani&lt;/b&gt; menyatakan, bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;“Oleh karena itu, keterpisahan antara laki-laki dan wanita dalam kehidupan Islam adalah fardlu. Keterpisahan laki-laki dan wanita dalam kehidupan khusus harus dilakukan secara sempurna, kecuali yang diperbolehkan oleh syara’. Sedangkan dalam kehidupan umum, pada dasarnya hukum asal antara laki-laki dan wanita adalah terpisah (&lt;u&gt;infishal&lt;/u&gt;). Seorang laki-laki tidak boleh berinteraksi (&lt;u&gt;ijtima’&lt;/u&gt;) di dalam kehidupan umum, kecuali dalam hal yang diperbolehkan, disunnahkan, atau diwajibkan oleh Syaari’ (Allah SWT), dan dalam suatu aktivitas yang memestikan adanya pertemuan antara laki-laki dan perempuan, baik pertemuan itu dilakukan secara terpisah (&lt;u&gt;infishal&lt;/u&gt;), misalnya, pertemuan di dalam masjid, ataupun pertemuan yang dilakukan dengan bercampur baur (&lt;u&gt;ikhtilath&lt;/u&gt;), misalnya ibadah haji, dan dalam aktivitas jual beli.” (ibid, hal. 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; (campur baur) berbeda dengan interaksi. Interaksi itu bisa berbentuk terpisah (&lt;i&gt;infishal&lt;/i&gt;) maupun berbentuk &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; (bercampur baur). Kita juga bisa menyimpulkan bahwa bolehnya seseorang melakukan interaksi dengan lawan jenisnya, bukan berarti membolehkan dirinya melakukan &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt;. Sebab, ada interaksi-interaksi yang tetap harus dilakukan secara terpisah, misalnya di dalam masjid, dalam majelis ilmu dan dalam walimah, dan sebagainya. Adapula interaksi yang dilakukan boleh dengan cara bercampur baur-baur, misalnya jual beli, naik haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada interaksi-interaksi (pertemuan) yang di dalamnya boleh dilakukan dengan cara &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt;, maka seorang laki-laki diperbolehkan melakukan &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt;. Misalnya bercampur baurnya laki-laki dan wanita di pasar-pasar untuk melakukan aktivitas jual beli; bercampur baurnya laki-laki dan wanita di Baitullah untuk melakukan Thawaf, bercampur baurnya laki-laki tatkala berada di halte bus untuk menunggu bis, di tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. Namun demikian, walaupun mereka boleh berikhtilath dalam keadaan ini, akan tetapi mereka tetap tidak boleh mengobrol, bercengkerama, atau melakukan aktivitas selain aktivitas yang hendak ia tuju. Misalnya, seseorang boleh bercampur baur dengan wanita di dalam kendaraan umum, akan tetapi ia tidak boleh bercakap-cakap dengan wanita yang ada di sampingnya, kecuali ada hajah yang syar’iy. Namun, jika masih bisa dihindari adanya &lt;i&gt;ikhtilah&lt;/i&gt;, akan lebih utama jika seseorang tidak berikhtilath. Misalnya, memilih tempat duduk yang diisi oleh laki-laki. Atau, negara bisa memberlakukan pemisahan tempat duduk laki-laki dan wanita di kendaraan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika interaksi itu tetap mengharuskan adanya keterpisahan, maka &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; tidak diperbolehkan. Misalnya, &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt;nya wanita dan laki-laki dalam walimah, di dalam masjid, di dalam bangku sekolah, dan lain sebagainya. &lt;i&gt;Ikhtilath&lt;/i&gt; dalam keadaan semacam ini tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, anda telah kami jelaskan mengenai masalah &lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; dengan gamblang dan jelas. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;/i&gt;. [Syamsuddin Ramadhan]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(0, 0, 0);font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/358511380439255505-3478784660651776523?l=hadehate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/3478784660651776523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=358511380439255505&amp;postID=3478784660651776523&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/3478784660651776523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/3478784660651776523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/2008/01/hukum-tentang-ikhtilath_05.html' title='Hukum Tentang Ikhtilath'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505.post-2499370946002850963</id><published>2007-11-27T18:23:00.000-08:00</published><updated>2007-11-27T18:48:41.849-08:00</updated><title type='text'>“Manajemen Diri Sendiri” (Bersegera Melaksanakan Amal Kebaikan)</title><content type='html'>Oleh: Amin RH&lt;br /&gt;Publikasi 03/01/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hayatulislam.net - Menunda aktivitas adalah salah satu penyakit yang sering tidak disadari. Padahal setiap kali se-seorang menunda suatu aktivitas yang telah direncanakan pada waktu yang juga direncanakan berarti hanya menumpuk kesulitan dan pekerjaan bagi dirinya. Banyak sekali contoh kecil tentang ini. Misalkan, Anda seorang mahasiswa Biologi. Besok Kamis mau ada ujian akhir Biologi. Bahan –bahan sudah terkumpul sejak hari Senin, tercatat ada 5 buku yang tebalnya masing-masing 400 hal. Sampe hari Selasa Anda belum belajar juga (mungkin masih istiqomah dengan prinsip SKS, Sistem Kebut Semalam). Akhirnya diputuskan hari Rabu malam belajarnya. Tanpa disangka malam Kamisnya listrik semalaman dikost-kost-an MATI! Subhanallah, Apa yang akan Anda lakukan? padahal ujian Biologi tepat jam 7 pagi! Sedang jarak kost Anda dari kampus mesti harus naik angkot 2 x. Anda tidak punya motor! Belum, ada kemungkinan besar bangun tidur Anda kesiangan, sebab semalaman nungguin listrik nyala ! Itu baru contoh kecil, belum contoh yang besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, setiap perbuatan yang semestinya dilakukan –karena memang Anda mampu melakukannya– tetapi diulur-ulur waktu pelaksanannya, akibatnya adalah banyaknya kesulitan dan ujung-ujungnya kegagalan, sadar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang biasanya menjadikan seseorang menunda-nunda aktivitas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Thulul Amal (merasa umur masih panjang)&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri, jilid XI, menjelaskan, bahwa jika penyakit thulul amal ini menjangkiti manusia, maka tidak ayal lagi akan membawa indikisasi yang lebih serius, misalnya mulai mendekati larangan Allah, enggan bertobat –apalagi dengan ditundanya azab Allah bagi umat Muhammad (berbeda dengan umat-umat sebelumnya)– akan semakin mengenjoykan orang-orang yang terjangkit penyakit ini. Akhirnya lupa alam akhirat dan hatinya menjadi keras. Sementara hati dapat menjadi lunak dan bersih hanya dengan mengingat-ingat kematian, kehidupan di alam barzakh, pahala serta siksa. Tepat sekali sabda Rasullulah Saw, “Bahwa orang (dari umatku) yang paling cerdas adalah yang mempersiapkan hidupnya untuk matinya.” Artinya, ketika kita melakukan setiap perbuatan hendaklah selalu ingat, JANGAN-JANGAN INI KESEMPATANKU YANG TERAKHIR. Kita kuliah, kita bekerja, kita berbakti pada orang-tua, kita sholat, kita berdakwah dan lain-lain mesti harus ingat prinsip ini. Jangan sekali-kali menyepelekan waktu barang sedetik pun, semenit pun, apalagi sampai sejam, sehari, seminggu! Ingat, seorang pelari 100m, mereka sangat menghargai waktu 1 detik. Juga seorang pilot pesawat terbang adalah orang yang menghargai waktu 1 menit. Itu semua, karena kematian atau ajal akan datang kapan saja dan dimana saja! Allah SWT akan memilih secara acak kepada siapa ajal akan diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Lebih percaya pada dugaan daripada realitas.&lt;br /&gt;Jika Anda memiliki produktivitas dan percaya diri yang tinggi amatlah bagus. Namun jika produktivitas dan PD yang tinggi tersebut kemudian melahirkan ditundanya aktivitas yang mestinya segera Anda lakukan, berarti ada yang keliru pada diri Anda. Maka, sikap sistem SKS sebenarnya sikap yang keliru. Pertama, Anda terlalu percaya diri, bahwa semuanya akan lancar-lancar saja –padahal oleh Anda sudah direncanakan sebelumnya namun kemudian ditunda. Kedua, Anda menafikan adanya qadla’ (kepastian). Artinya, Anda lebih mempercayai sesuatu yang sifatnya dugaan atau prasangka (dzanni) daripada yang pasti datangnya (qadla’). Katakanlah, apakah dengan sistem SKS yang Anda pakai ditambah dengan produktivitas dan PD tinggi yang Anda miliki maka semuanya pasti berjalan lancar? Belum tentu! Ada faktor X yang patut diingat yaitu qadla Allah SWT. Maka dari itu, sikap bekerja keras musti dibarengi dengan tawakal alias berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan dan melapangkan segala urusan-urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Menjadikan orang lain sebagai tolak ukur.&lt;br /&gt;Artinya, menyangka bahwa kebahagiaan, keberhasilan atau kecelakaan dirinya ditentukan oleh orang lain. Contohnya, perkataan, “Si anu hari ini tidak baca al-Qur’an, kalo gitu saya juga tidak baca dong…” atau perkataan lain, “Alhamdullilah, si anu belum mengerjakan . Padahal dia kan… termasuk orang paling rajin. Kalo gitu, saya juga nanti saja ah mengerjakannya…” Jelas, sikap demikian sesungguhnya cerminan dari orang yang tidak mandiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya kita sebagai kaum muslim sadar akan firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah suatu jiwa menanggung dosa orang lain…” (Qs. al-An’âm [6]: 164)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang bertanggung jawab terhadap apa-apa yang ia lakukan…” (Qs. ath-Thûr [52]: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat diatas jelas, bahwa Allah memberitahukan pada kita kalo melakukan kebaikan atau melakukan kemaksiatan yang akan dihisab adalah diri kita sendiri atas dasar perbuatan sendiri. Bila demikian keadaannya maka siapapun yang menyadari hal ini tidak akan lagi menggantungkan perbuatannya kepada “melakukan atau tidaknya orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, yang musti dinyatakan dalam diri kita, “Orang lain shalih atau tidak, saya harus shalih!” “Orang lain hari ini membaca al-Qur’an atau tidak, saya harus membaca!” “Orang lain berdakwah atau tidak, saya harus tetap berdakwah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Malas.&lt;br /&gt;Malas adalah musuh bagi seorang muslim, karena sikap malas berasal dari syaithan. Sebagaimana Amerika dan Israel adalah musuh kita, karena telah membantai sekian juta kaum muslim! Oleh karena itu, ada 2 langkah yang perlu dilakukan kita untuk menghancurkan rasa malas tersebut: 1. Mengesampingkan rasa malas tersebut, lalu bersegera keras untuk melakukan aktivitas yang harus dilakukan. 2. Berlindung kepada Allah SWT dari sikap malas. Bagaimana caranya? Caranya seperti ketika kita dikejar-kejar anjing. Pertama kita lari, kok…masih ngejar, kita berhenti, kemudian cari batu. Sudah dilempar batu tapi kok…masih ngejar juga, terakhir kita panggil pemiliknya. Yakin deh…ketika pemiliknya datang, pasti anjingnya manut (berhenti). Sebagaimana ketika kita mengusir setan. Panggil pemiliknya atau yang menciptakannya, yaitu Allah SWT. Bacakan doa-doa yang intinya kita berlindung dari godaan setan. Dengan pertolongan si pemilik syaithan (Allah SWT), syaithan-nya pasti lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Aktivitas yang ditunda sangat mungkin disebabkan ketidaktahuan tentang apa yang harus dikerjakan.&lt;br /&gt;Barangkali orang yang menunda aktivitas –padahal waktunya juga luang– adalah orang-orang yang dikarenakan tidak tahu apa yang seharusnya dikerjakan. Yang pada akhirnya, bersikap bingung, kemudian melamun, hingga tidur-tidur-an sampe tidur beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ini yang menyebabkan tertundanya aktivitas, maka solusi yang baik adalah melakukan perencanaan. Apalagi bagi seorang aktivis dakwah; perencanaan adalah nomor satu dari setiap aktivitas yang akan dilakukannya. Apa-pun jenis aktivitasnya, baik saat mengadakan seminar, diskusi publik, ngisi ceramah, kontak tokoh atau sebarkan bulletin. Karena itu semua adalah dalam rangka berjuang dijalan Allah. Sehingga tidak bisa seenaknya ketika mengerjakannya. Ingat, kata pepatah “Kegagalan dalam merencanakan berarti berbanding lurus dengan merencanakan kegagalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Rasullullah Saw, bila kita lihat sirah-nya, hidupnya penuh dengan perencanaan. Misalnya, bagaimana ketika beliau akan ber-hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu sarat dengan perencanaan. Sampe-sampe siapa yang nanti harus dijadikan “peran” pengganti sebagai Rasul saat tidur pun, sudah direncanakan matang-matang, yaitu, sahabatnya Ali ibn Thalib r.a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Aktivitas yang melebihi kapasitas diri sendiri tidak jarang mengakibatkan ditundanya perbuatan.&lt;br /&gt;Keinginan untuk bisa melakukan aktivitas semuanya pada waktu yang berbarengan, memang ada dan menimpa setiap orang. Namun, bijak kiranya suatu saat kita perlu mengerem-nya ketika itu diluar kemampuan Anda. Jika tidak, semuanya akan serba tanggung, serba setengah-setengah alias tidak maximal. Selain karena factor keterbatasan diri sendiri, waktu yang diperuntukkan Allah bagi manusia juga amatlah sedikit. Bayangkan, sehari hanya 24 jam. Tidak lebih. Padahal kewajiban yang harus ditunaikan demikian banyak. Betul kata pepatah, “al waqthu qashir wal amal katsir” (waktu amatlah sedikit, namun pekerjaan sangat banyak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu satu-satunya cara yang harus ditempuh adalah menetapkan skala prioritas. Tentunya bagi seorang muslim yang taat, skala prioritas musti dikembalikan kepada skala-syariat. Yakni, apakah itu wajib, sunnah (mandub), mubah (boleh), makruh atau-kah haram. Dengan skala prioritas ini, insya allah kita akan terjaga dari perkara-perkara yang sia-sia, juga waktu yang setiap detik, menit selalu berganti tidak akan terbuang cuma-cuma. Nabi Saw, mengingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diantara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apapun yang tidak berguna baginya.” [HR. at-Tirmidzi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan salah satu ciri orang mukmin adalah meninggalkan laghwu, yaitu perkara yang sia-sia, seperti disebut pada awal-awal surat al-Mukminun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekilas landasan yang dapat dijadikan pegangan dalam menghilangkan penyakit menunda-nunda aktivitas kebaikan. Hanya saja, kuncinya tetap ada pada Anda sendiri Wallahu ‘alam bi shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/358511380439255505-2499370946002850963?l=hadehate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/2499370946002850963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=358511380439255505&amp;postID=2499370946002850963&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/2499370946002850963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/2499370946002850963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/2007/11/manajemen-diri-sendiri-bersegera.html' title='“Manajemen Diri Sendiri” (Bersegera Melaksanakan Amal Kebaikan)'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505.post-6867957432508616514</id><published>2007-11-26T20:50:00.000-08:00</published><updated>2007-11-26T20:51:38.384-08:00</updated><title type='text'>Teruntuk: Calon Istriku</title><content type='html'>Assalammu'alaikum Wr... Wb...&lt;br /&gt;Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care...&lt;br /&gt;Allah selalu bersama kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Masihkah menungguku.. .?&lt;br /&gt;Hm... menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!&lt;br /&gt;Menunggu...&lt;br /&gt;Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang 'istimewa'&lt;br /&gt;Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa&lt;br /&gt;Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu&lt;br /&gt;Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat&lt;br /&gt;Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan- Nya,&lt;br /&gt;melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,&lt;br /&gt;atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati&lt;br /&gt;Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong&lt;br /&gt;Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari 'dunia lain' masuk ke jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu&lt;br /&gt;Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih&lt;br /&gt;Ngejomblo itu nikmat, jenderal!&lt;br /&gt;Ups, itu judul tulisanku beberapa waktu lalu&lt;br /&gt;Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif&lt;br /&gt;Mumpung waktu kita masih banyak luang&lt;br /&gt;Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga&lt;br /&gt;Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak&lt;br /&gt;Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak&lt;br /&gt;Karenanya wahai bidadari dunia...&lt;br /&gt;Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang&lt;br /&gt;Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda&lt;br /&gt;Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit&lt;br /&gt;Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber&lt;br /&gt;Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini 'sarang tikus'&lt;br /&gt;Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini&lt;br /&gt;Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit&lt;br /&gt;Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan&lt;br /&gt;Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik&lt;br /&gt;Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah&lt;br /&gt;Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,&lt;br /&gt;betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu&lt;br /&gt;Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu&lt;br /&gt;Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang&lt;br /&gt;Karena jalan ini masih panjang&lt;br /&gt;Banyak hal yang menghadang&lt;br /&gt;Hatiku pun melagu dalam nada angan&lt;br /&gt;Seolah sedetik tiada tersisakan&lt;br /&gt;Resah hati tak mampu kuhindarkan&lt;br /&gt;Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan&lt;br /&gt;Karang asaku tiada 'kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan&lt;br /&gt;Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan&lt;br /&gt;Keputusan besar untuk datang kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu&lt;br /&gt;Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,&lt;br /&gt;bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir&lt;br /&gt;Yakinlah...saat itu pasti 'kan tiba&lt;br /&gt;Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu&lt;br /&gt;Karena kecantikan hati dan iman yang dicari&lt;br /&gt;Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu&lt;br /&gt;Karena aura keimananlah yang utama&lt;br /&gt;Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,&lt;br /&gt;merasuk dan menembus relung jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai perhiasan terindah...&lt;br /&gt;Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu.&lt;br /&gt;Apalagi hanya demi sebuah pernikahan.&lt;br /&gt;Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik.&lt;br /&gt;Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil&lt;br /&gt;Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup&lt;br /&gt;Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu&lt;br /&gt;Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu&lt;br /&gt;Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya&lt;br /&gt;Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,&lt;br /&gt;sungguh...itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci&lt;br /&gt;Dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Skenario Allah adalah skenario terbaik&lt;br /&gt;Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita&lt;br /&gt;Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,&lt;br /&gt;merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya&lt;br /&gt;Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah 'kan menjelang jua&lt;br /&gt;Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan&lt;br /&gt;Apa kabarkah kau disana?&lt;br /&gt;Lelahkah kau menungguku berkelana?&lt;br /&gt;Lelahkah menungguku kau disana?&lt;br /&gt;Bisa bertahankah kau disana?&lt;br /&gt;Tetap bertahanlah kau disana...&lt;br /&gt;Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu&lt;br /&gt;Bila waktu itu telah tiba,&lt;br /&gt;kenakanlah mahkota itu,&lt;br /&gt;kenakanlah gaun indah itu...&lt;br /&gt;Masih banyak yang harus kucari, 'tuk bahagiakan hidup kita nanti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir&lt;br /&gt;Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,&lt;br /&gt;kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang&lt;br /&gt;Cinta membuat hati terasa terpotong-potong&lt;br /&gt;Jika di sana ada bintang yang menghilang,&lt;br /&gt;mataku berpendar mencari bintang yang datang&lt;br /&gt;Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang...&lt;br /&gt;Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat&lt;br /&gt;Dan mendo'akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,&lt;br /&gt;dan mendapat yang terbaik dari-Nya&lt;br /&gt;Aku tak pernah berharap, kau 'kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini&lt;br /&gt;Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup&lt;br /&gt;Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini&lt;br /&gt;Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau 'tuk dikagumi&lt;br /&gt;Akulah orang yang 'kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhtiku...&lt;br /&gt;Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,&lt;br /&gt;hanya bisa merindukanmu&lt;br /&gt;Dan tetaplah berharap, terus berharap&lt;br /&gt;Berharap aku 'kan segera datang&lt;br /&gt;Jangan pernah berhenti berharap,&lt;br /&gt;Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup&lt;br /&gt;Bila kau jadi istriku kelak,&lt;br /&gt;jangan pernah berhenti memilikiku&lt;br /&gt;dan mencintaiku hingga ujung waktu&lt;br /&gt;Tunjukkan padaku kau 'kan selalu mencintaiku&lt;br /&gt;Hanya engkau yang aku harap&lt;br /&gt;Telah lama kuharap hadirmu di sini&lt;br /&gt;Meski sulit, harus kudapatkan&lt;br /&gt;Jika tidak kudapat di dunia...&lt;br /&gt;'kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga&lt;br /&gt;Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,&lt;br /&gt;aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu&lt;br /&gt;Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,&lt;br /&gt;pelarian perasaanku&lt;br /&gt;dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku&lt;br /&gt;Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti...&lt;br /&gt;Apa yang akan ku hadapi&lt;br /&gt;Dan apa yang harus kucari dalam hidup&lt;br /&gt;Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,&lt;br /&gt;untuk dirimu yang selalu bijaksana&lt;br /&gt;Aku goreskan syair sederhana ini,&lt;br /&gt;untuk dirimu yang selalu mempesona&lt;br /&gt;Memahamiku dan mencintaiku apa adanya&lt;br /&gt;Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga...&lt;br /&gt;Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu&lt;br /&gt;Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu&lt;br /&gt;Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti&lt;br /&gt;Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati&lt;br /&gt;Begitu indah kau tercipta bagi Adam&lt;br /&gt;Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa&lt;br /&gt;Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki&lt;br /&gt;Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;(Dewi Khayalan - Daun Band)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt;ringankanlah kerinduan yang mendera&lt;br /&gt;kupanjatkan sepotong doa setiap waktu,&lt;br /&gt;karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku&lt;br /&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt;ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini&lt;br /&gt;ringankan langkah kami&lt;br /&gt;beri kami kekuatan dan kemampuan&lt;br /&gt;tuk melengkapkan setengah dien ini,&lt;br /&gt;mengikuti sunnah RasulMu&lt;br /&gt;jangan biarkan hati-hati kami&lt;br /&gt;terus berkelana tak perpenghujung&lt;br /&gt;yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan&lt;br /&gt;yang telah Engkau berikan&lt;br /&gt;Aamiin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr... Wb...&lt;br /&gt;Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya, Fillah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/358511380439255505-6867957432508616514?l=hadehate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/6867957432508616514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=358511380439255505&amp;postID=6867957432508616514&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/6867957432508616514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/6867957432508616514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/2007/11/teruntuk-calon-istriku.html' title='Teruntuk: Calon Istriku'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505.post-1595307423653257718</id><published>2007-11-18T20:05:00.001-08:00</published><updated>2007-11-18T20:18:59.734-08:00</updated><title type='text'>Membangun Keluarga Ideologis</title><content type='html'>Oleh: Nurfaizah dan Najmah&lt;br /&gt;Publikasi 23/02/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hayatulislam.net - Musuh-musuh Islam memang tidak menghendaki kaum Muslim berpegang teguh pada Islam secara utuh. Mereka tidak akan pernah tinggal diam terhadap upaya kaum Muslim untuk menegakkan syariat Islam. Mereka berusaha keras untuk memisahkan kaum Muslim dari syariat Islam. Mereka terus berupaya mengaburkan syariat Islam dan mengikis sedikit demi sedikit syariat Islam dari kehidupan kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata usaha mereka berhasil. Sedikit demi sedikit syariat Islam ditinggalkan oleh umatnya sehingga yang tersisa hanyalah aturan yang terkait dengan ibadah ritual dan keluarga. Namun, tidak berhenti sampai di sana, mereka pun terus berupaya untuk merusak hukum-hukum keluarga dalam rangka merusak tatanan kehidupan keluarga Muslim yang masih tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari Feminisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya feminisme tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah perjuangan kaum perempuan Barat menuntut kebebasannya. Karena pada abad Pertengahan kaum perempuan tidak memiliki tempat ditengah masyarakat, maka mereka diabaikan, tidak memiliki sesuatu pun, dan tidak boleh mengurus apapun. Sejarah Barat dianggap tidak memihak kaum perempuan. Dalam masyarakat feodalis (di Eropa hingga abad ke-18), dominasi mitologi filsafat dan teologi gereja sarat dengan pelecehan feminitas; wanita diposisikan sebagai sesuatu yang rendah, yaitu dianggap sebagai sumber godaan dan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian muncul renaisance, yang berintikan semangat pemberontakan terhadap dominasi gereja, kemudian diikuti dengan Revolusi Prancis dan Revolusi Industri. Inilah puncak reaksi masyarakat terhadap dominasi kaum feodal yang cenderung korup dan menindas rakyat, di bawah legitimasi gereja. Inilah pula awal proses liberalisasi dan demokratisasi kehidupan di Barat. Perubahan ini tidak hanya berpengaruh pada berubahnya sistem feodal menjadi sistem kapitalis sekular, tetapi ikut menginspirasikan kaum perempuan untuk bangkit memperjuangkan hak-haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini dipermudah dengan seruan kaum kapitalis sebagai golongan pemilik kapital yang mendorong kaum perempuan bekerja di luar rumah. Ketika kaum perempuan bekerja di luar rumah, mereka merasa terasing dengan kondisi seperti ini. Mereka berurusan dengan pabrik-pabrik, pusat-pusat bisnis, dan dengan kaum lelaki sebagai pihak yang dianggap bertentangan dengan kepentingannya. Akhirnya, mereka bersaing dengan laki-laki dan berusaha merebut posisi kaum laki-laki untuk memperoleh kebebasan mutlak agar terlepas dari segala macam ikatan dan nilai serta tradisi. Kaum perempuan mulai menuntut persamaan secara mutlak dengan kaum laki-laki termasuk dalam urusan kebebasan hubungan seksual tanpa perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam berupaya untuk mentransfer kebobrokan perilaku masyarakat semacam ini ke Dunia Islam untuk menghancurkan sistem keluarga Islam dan menggantinya dengan perilaku yang sama dengan mereka. Menyebarnya ide feminisme di Dunia Islam didorong oleh banyaknya permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, termasuk di yang ada di negeri-negeri Muslim. Kekerasan, kemiskinan, dan ketidakadilan/diskriminasi sering disebut-sebut sebagai permasalahan krusial yang dialami perempuan dari masa ke masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta tersebut, muncullah berbagai tuntutan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Pasalnya, perubahan masyarakat dari sistem feodal menjadi sistem kapitalis ternyata tidak serta-merta mengubah nasib kaum perempuan menjadi lebih baik. Bahkan dengan sistem kapitalis ini, nasib kaum perempuan semakin terpuruk. Kemiskinan struktural yang terjadi mengharuskan mereka ikut berperan dalam menopang ekonomi keluarga. Pada saat yang sama, mereka harus berperan dalam sektor domestiknya. Inilah yang menurut kalangan feminis dianggap sebagai sebuah ketimpangan, ketidakadilan, atau disparitas jender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, salah satu perjuangan dari kaum feminis radikal adalah menyerang dan menolak institusi keluarga dan sistem patriarkal yang dalam pandangan mereka merupakan simbol dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan. Feminisme berupaya mengubah struktur pembagian tugas kehidupan menjadi kebebasan menentukan tugas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan bisa memilih menjadi ibu, ayah, keduanya sekaligus, atau tidak sama sekali. Sebaliknya, seorang laki-laki bisa menjadi seorang ‘ibu’, ayah, keduanya sekaligus atau tidak sama sekali; tanpa ada batasan; tidak ada tolok ukur dan standar yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran nilai dan kemaslahatan dikembalikan kepada masing-masing orang. Caranya adalah dengan mengubah tata nilai patriarkal di tengah masyarakat—seperti nilai kepatuhan, penderitaan tanpa protes, dan submissin (mental bawahan). Lalu konsep jender pun berubah. Pada akhirnya, pembagian peran pun akan berubah sehingga terwujud persamaan dan kesetaraan di tengah keluarga dan masyarakat. Itulah yang disebut dengan masyarakat ideal dalam kacamata kaum feminis, yaitu sebuah masyarakat yang berkesetaraan jender; laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam semua aktivitas di semua level (domestik atau publik) dan tidak mendapat halangan untuk menikmati hasil-hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Apa yang dihasilkan oleh feminisme telah membawa dampak buruk. Fakta menunjukkan, bahwa pengaruh feminisme sekular telah membawa kerusakan bagi tatanan fungsi dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat, sekaligus mengakibatkan hancurnya tatanan sosial masyarakat secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena kebebasan yang ditawarkan feminisme berakibat pada runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, fenomena un wed dan no-mar, merebaknya free sex, meningkatnya kasus aborsi, dilema wanita karir, sindrom cinderella complex, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah, dan lain-lain. Walhasil, yang terbentuk tentu saja bukan masyarakat yang kokoh, tetapi sebuah masyarakat yang penuh dengan konflik yang tidak memberikan ketenangan dan kepastian, karena berbagai penyimpangan banyak terjadi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Keluarga Ideologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi awal yang benar merupakan pondasi untuk membangun kehidupan rumahtangga yang kokoh. Dalam hal ini, Islam menetapkan bahwa motivasi seseorang melangsungkan kehidupan suami-istri adalah untuk melaksanakan salah satu dari bentuk ibadah kita kepada Allah Swt. Kehidupan pernikahan adalah kehidupan persahabatan antara seorang suami dan istrinya. Suami menjadi sahabat bagi istrinya dan istri menjadi sahabat bagi suaminya secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Allah telah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami-istri, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri —supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya— dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. ar-Rûm [30]: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita dapat membentuk keluarga yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, yakni sebuah keluarga yang berbasiskan ideologi Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pondasi dasar dari pernikahan tersebut adalah akidah Islam bukan manfaat ataupun kepentingan. Dengan menjadikan Islam sebagai landasan, maka segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga tersebut dikembalikan pada Islam semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya visi dan misi yang sama antara suami-istri tentang hakikat dan tujuan hidup dan berkeluarga dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memahami dengan benar fungsi dan kedudukan masing-masing dalam keluarga dan berupaya semaksimal mungkin menjalankannya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menjadikan Islam dan syariatnya sebagai solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarganya. Halal-haram dijadikan landasan dalam berbuat, bukan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, menumbuhsuburkan amar makruf nahi mungkar di antara sesama anggota keluarga sehingga seluruh anggota keluarga senantiasa berjalan pada rel Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, menghiasi rumah dengan membiasakan melakukan amalan-amalan sunnah, seperti membaca al-Qur’an, bersedekah, mengerjakan shalat sunnah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, senantiasa memanjatkan doa kepada Allah dan bersabar dalam situasi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Penting Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah bangunan dasar untuk membentuk keluarga yang kokoh dan ideologis. Lebih dari itu, bangunan keluarga tersebut akan mencapai kekuatan yang hakiki jika berhasil berpengaruh di tengah-tengah lingkungannya, karena keluarga memiliki peran yang penting dalam pembentukan sebuah masyarakat. Keluarga adalah pranata awal pendidikan primer bagi seorang manusia. Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan sendi-sendi pendidikan yang fundamental, maka keluarga adalah pemberi pengaruh pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga memiliki peran strategis dalam proses pendidikan anak, bahkan umat manusia. Keluarga lebih kuat pengaruhnya dari sendi-sendi yang lain. Sejak awal masa kehidupannya, seorang manusia lebih banyak mendapatkan pengaruh dari keluarga. Sebab, waktu yang dihabiskan di keluarga lebih banyak daripada di tempat-tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan sepanjang hayat. Pembinaan dan pengembangan kepribadian serta penguasaan tsaqâfah Islam dilakukan melalui pengalaman hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga, terutama ibu dan bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya pembinaan dan pendidikan di dalam keluarga, pendidikan anak sejak dini dalam keluarga akan tertanam secara kuat di dalam diri seorang anak. Sebab, pengalaman hidup pada masa-masa awal umur manusia akan membentuk ciri-ciri khas, baik dalam tubuh maupun pemikiran, yang bisa jadi tidak ada yang dapat mengubahnya sesudah masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, keluarga secara langsung ataupun tidak turut mempengaruhi jatidiri sebuah masyarakat. Dari keluargalah muncul generasi manusia yang bermartabat, memiliki rasa kasih sayang, dan saling tolong-menolong di antara mereka. Dengan begitu, akan terciptalah tatanan kehidupan masyarakat yang kuat, yang didukung keluarga-keluarga yang harmonis dan berkasih sayang, karena memiliki pemikiran ideologis sebagai pondasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan Sistem Politik Yang Kondusif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hal penting lainnya yang tidak bisa kita abaikan dalam pembentukan keluarga yang kuat dan ideologis adalah peran sistem yang mendukung hal tersebut. Sebab, bagaimanapun kuatnya kita memproteksi keluarga dengan ide-ide Islam dan pembinaan yang intensif kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya, apabila sistem yang berlaku di tengah kehidupan keluarga itu tidak menggunakan aturan-aturan Islam, maka sulit bagi bangunan keluarga yang kokoh itu bisa bertahan. Sebab, gempuran dari luar akan senantiasa menghadang, baik itu berupa pemikiran-pemikiran yang bertentangan yang bisa mempengaruhi tingkah laku dan moral anggota keluarga maupun rintangan berupa kesulitan ekonomi yang berdampak pada sulitnya pemenuhan kebutuhan fisik dan non-fisik anggota keluarga. Dari sinilah biasanya muncul tindak kriminalitas dan penyimpangan sosial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, penataan kehidupan yang benar berkaitan dengan semua urusan masyarakat sangat diperlukan. Dengan sistem politik Islamlah semua ini bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem politik Islam memiliki kemampuan untuk memberikan solusi atas semua persoalan, baik menyangkut persoalan individu, keluarga, maupun masyarakat. Sistem Islam mampu membendung serangan musuh-musuh Islam ke tengah-tengah kaum Muslim dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan dan tatanan yang sesuai dengan aturan Islam. Hal ini dilakukan dengan cara penerapan aturan-aturan Islam yang komprehensif. Sebab, sistem politik Islam itu sendiri intinya adalah bagaimana menciptakan pengaturan urusan masyarakat sesusai dengan tuntunan syariat Islam hingga tercipta tatanan masyarakat yang baik, damai, dan sejahtera; yang dipenuhi dengan ampunan dan keridhaan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membendung Penghancuran Keluarga Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membendung upaya penghancuran keluarga Muslim dan Islam pada umumnya, maka kaum Muslim secara bersama-sama dituntut untuk memiliki kesadaran dalam memahami Islam secara menyeluruh dari segala aspeknya. Dengan begitu, kaum Muslim akan mampu mencermati dan mengantisipasi bahaya ide-ide asing yang bertentangan dengan Islam seperti feminisme, kesetaraan jender, emansipasi, liberalisme, dan sebagainya. Pemahaman Islam seperti ini bisa kita peroleh dengan cara membina diri kita dan kaum Muslim secara terus-menerus dengan tsaqâfah Islam. Tsaqâfah Islam tersebut kemudian dijadikan sebagai acuan atau pijakan dalam menyikapi berbagai pemikiran dan pemahaman asing yang menyerang. Hal ini harus dibarengi dengan senantiasa mengikuti berita dan fakta-fakta yang berkembang, kemudian menyikapinya dan memberikan solusi sesuai dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penting untuk melibatkan diri secara aktif dalam upaya menyebarkan ide-ide Islam tersebut ke tengah-tengah masyarakat. Sebab, membentuk keluarga yang kokoh tidak cukup dilakukan oleh individu di dalam sebuah keluarga semata. Akan tetapi, hal itu juga harus ditempuh secara politis, sistimatis, dan ideologis dalam suatu gerakan yang terorganisasi secara rapi. Sebab, kaum feminis pun, dalam menghancurkan keluarga Muslim, melakukannya bukan hanya sebatas aktivitas penyebaran ide secara individual semata, tetapi melalui sebuah gerakan yang memiliki kekuatan besar dan didukung oleh ideologi tertentu (kapitalis sekular) di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, yang perlu menjadi agenda kaum Muslim saat ini untuk membendung upaya penghancuran keluarga Muslim adalah bagaimana menghadirkan Islam dengan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh dalam pengaturan umat secara nyata, baik dalam tingkat individu, keluarga, masyarakat, maupun negara. Dengan begtiu, kaum Muslim bisa keluar dari keterpurukannya dan sekaligus bangkit kembali sebagai umat terbaik (khayr al-ummah), yang tegak di atas keluarga-keluarga yang kuat. [Majalah al-wa’ie, Edisi 54]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/358511380439255505-1595307423653257718?l=hadehate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/1595307423653257718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=358511380439255505&amp;postID=1595307423653257718&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/1595307423653257718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/1595307423653257718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/2007/11/membangun-keluarga-ideologis.html' title='Membangun Keluarga Ideologis'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505.post-2217359867137567457</id><published>2007-11-18T20:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T20:04:52.334-08:00</updated><title type='text'>Refleksi Rasa Syukur</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refleksi Rasa Syukur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Syamsuddin Ramadhan&lt;br /&gt;Publikasi 10/01/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hayatulislam.net - Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 152).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ‘Ali Ash-Shabuni dalam Shafwât al-Tafâsir menyatakan, “Ingatlah kalian kepadaKu dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan firman Allah SWT, ‘bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu’, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya: ‘Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?’ Rabbnya menjawab: ‘Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu’.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, I/142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat yang lain Allah SWT menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (Qs. al-Baqarah [2]: 172).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ulama-‘ulama tafsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “jika kalian benar-benar menyembah kepadaNya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmatNya yang tidak bisa dihitung itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diriNya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, bersyukur atas nikmat Allah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT dan meninggalkan maksiyat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seorang yang selalu taat kepada Allah SWT, menjalan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya ia adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, setiap orang yang menampik dan menolak dengan keras syari’at Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikanNya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (Qs. Yunus [10]: 60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Qs. al-Baqarah [2]: 243).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Tatkala mendapatkan kenikmatan mereka sering melupakan Allah SWT. Akan tetapi, tatkala mendapatkan kesusahan mereka mereka ingat dan bersyukur kepada Allah. Namun, setelah terlepas dari penderitaan mereka kembali ingkar kepada Allah SWT. Allah telah menyatakan dengan sangat jelas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengetakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (Qs. al-An’âm [6]: 63-64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia ditimpa dengan berbagai macam kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika bencana itu dilepaskan dari mereka. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah SWT. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada Allah SWT agar dihindarkan dari kesusahan hidup; mulai kelaparan, kekeringan, bencana alam dan lain-lain. Mereka rela berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali menerapkan aturan-aturan kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah SWT. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah SWT? Bukankah refleksi syukur sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syari’at Islam dan selalu berdzikir kepada Allah SWT?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/358511380439255505-2217359867137567457?l=hadehate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/2217359867137567457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=358511380439255505&amp;postID=2217359867137567457&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/2217359867137567457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/2217359867137567457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/2007/11/refleksi-rasa-syukur.html' title='Refleksi Rasa Syukur'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-358511380439255505.post-6526683640903997887</id><published>2007-11-18T19:55:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T19:59:43.691-08:00</updated><title type='text'>Dari Ibu, Kita Belajar Mengenal Allah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Ibu, Kita Belajar Mengenal Allah  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sumber : Era Muslim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)." (QS. Al AhQaaf 46:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu." (QS. Luqman 31:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a, katanya: "Seseorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?" Jawab beliau, "Ibumu!, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat kepadamu, yang terdekat". Sahabatku tercinta rahimakumullah, bukankah Ibu adalah orang pertama yang kita kenal ketika hadir di alam ini? Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl 16:78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sambut kehadiran kita dengan penuh senyum kebahagiaan. "Alhamdulillah," ucapnya lirih, betapa Allah Maha Kuasa, sungguh peristiwa melahirkan adalah suatu peristiwa yang teramat sangat luar biasa bagi seorang wanita. Tak terbayangkan betapa menderita berjuang antara hidup dan mati. Tiada peduli urat-urat beliau terputus, Masya Allah, betapa sungguh tak ternyana sakitnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beliau ikhlas, "Untuk anakku tercinta akan kukorbankan seluruh jiwa raga". Betapa mulia seorang ibu, beliau sabar memelihara, menjaga, merawat, dan membesarkan kita. Duh ketika keremangan malam yang dingin ia dapati kita menangis. Beliau terjaga, beranjak bergegas menghampiri, memberikan apa yang kita pinta. Masya Allah . Beliau sangat sayang dan begitu pengasih, ketika kita sudah bisa bermain, berlari terkadang ibu memarahi kita, "Jangan main di sini anakku... nanti kotor, jangan begini begitu karena tidak baik!". Semua itu dilakukannya karena tidak ingin kita celaka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita beranjak dewasa, perlu makan beliau rela tak makan demi kita kasih sayangnya begitu tulus tanpa pamrih tak mengharapkan apa-apa kecuali kita sehat dan selamat. Hari berganti hari detik, menit, waktu akhirnya kita sadari hakikat keberadaan diri ini. Jadi... terbuktilah bagaimana Allah Swt itu Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dengan Cinta-Nya Ia memperkenalkan diri-Nya melalui perantara seorang Ibu. Kalau ibu saja begitu, apalagi Allah yang menciptakan kita? Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaa ha ilallah, Wallaahu Akbar. Karena pengorbanan Ibu yang tak terhingga itulah, Allah mewajibkan (memerintahkan) kita supaya berbakti (berbuat baik) kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra’ 17:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau Ridhai: berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al AhQaaf 46:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra'17:24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a, katanya: "Seseorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, 'Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?' Jawab beliau, " Ibumu! Kemudian ibumu Kemudian ibumu, Kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat kepadamu, yang terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan cinta menurut Rasulullah kepada Ibu dibanding Bapak adalah 3:1. Berbakti sebaik-baiknya pada orangtua juga merupakan jihad yang Allah janjikan sangat besar pahalanya. Sebagaimana sabda Beliau Saw: Dari Abdullah bin Amru bin Ash r.a. katanya: Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah Saw. Lalu dia berkata: "Aku bai’at (berjanji setia) dengan Anda akan ikut hijrah dan jihad, karena aku mengingini pahala dari Allah. Tanya Nabi Saw, "Apakah orangtuamu masih hidup? Jawab orang itu, "Bahkan keduanya masih hidup". Tanya Nabi Saw, "Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?" Jawabnya, " Ya!" Sabda Nabi Saw, "Pulanglah kamu kepada kedua orangtuamu, lalu berbaktilah pada keduanya sebaik-baiknya!". Besar pahalanya juga seimbang dengan besar dosanya jika tidak berbakti padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Saw sabdanya: "Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!" Lalu beliau ditanya orang, " Siapakah yang celaka, Ya Rasulullah?" Jawab Nabi Saw, " Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan merawat orang tuanya sebaik-baiknya)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kecintaan Rasulullah kepada Ibu, dapat dilihat dibawah ini, Dari Fadhal r.a, katanya: Seorang perempuan dari Khats'am bertanya kepada Rasulullah Saw, katanya: " Ya, Rasulullah! Bapakku sudah tua renta, kepadanya terpikul kewajiban menunaikan ibadah haji, sedangkan dia sudah tak sanggup duduk di punggung untanya, bagaimana itu? Jawab Rasulullah Saw, "Hajikanlah dia olehmu!" Dari Aisyah r.a., katanya : Seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah Saw, " ya Rasulullah! Ibuku meninggal dengan tiba-tiba dan beliau tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya dia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Dapatkah beliau akan pahalanya jika aku bersedekah atas nama beliau?" Jawab Rasulullah Saw, " Ya, dapat!" Dari Ibnu Abbas r.a., katanya: "Sa'ad bin Ubadah pernah minta fatwa kepada Rasulullah Saw. Tentang nazar ibunya yang telah meninggal, tetapi belum sempat ditunaikannya. Maka bersabda Rasulullah Saw, "Bayarlah olehmu atas namanya!" " Bagaimana jika Orangtua kita menyuruh untuk mepersekutukan Allah? "Allah Berfirman: "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS Luqman 31:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Asma’ binti Abu Bakar r.a., katanya: "Ketika terjadi gencatan senjata dengan kaum Quraisy, ibuku yang ketika itu masih musyrik mendatangiku. Lalu aku minta izin kepada Rasulullah Saw. Seraya berkata:" Ya Rasulullah! Ibuku mendatangiku, karena beliau rindu kepadaku. Bolehkah aku menemuinya?". Jawab rasulullah Saw, " Ya, boleh! Temuilah ibumu!" Begitu besar perhatian Allah dan kekasih-Nya pada orangtua kita. Walaupun Beliau (orangtua) menyuruh kita mepersekutukan Allah, Allah dan Rasul tetap mengharuskan kita untuk berbuat baik kepada orangtua kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah sahabatku, Janganlah cinta kita pada seseorang melebihi cinta kita pada ibu. Bukankah peran seorang ibu sangat besar dalam kehidupan ini?! Kita terkadang tidak menyadari setelah kita dewasa, tidakkah kita terpikir mampukah kita membalas kasih sayang orang tua kita?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku, seorang lelaki dikatakan baik jika ia mampu menghargai seorang wanita. Dan wanita itu dikatakan mulia jika ia senantiasa menghargai dirinya. Tidak ada bekas ibu ataupun bekas anak. Dan jika rasa cintamu pada ibu lebih besar, Insya Allah... Para laki-laki shalih akan merasa bahwa kelak pendampingnya adalah anugerah terindah yang diberikan Allah Swt pada dirinya, dan tidak akan mampu mencari penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wanita shalihat akan selalu belajar menutupi kekurangannya, karena ia yakin bahwa "saya adalah yang terindah" dihatinya... Dari Abdullah bin Umar r.a., katanya Rasulullah Saw, bersabda: "Dunia ialah kesenangan. Sebaik-baik kesenangan dunia ialah perempuan yang saleh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para laki-laki shalih mendapati pasangannya suatu kekurangan, sungguh itu tak sebanding dengan kelebihannya. Maka itu bimbinglah sahabat sejatimu menjadi sempurna dengan bimbingan yang bijaksana, sebagaimana Rasulullah membimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a., katanya Nabi Saw bersabda: "Siapa yang iman dengan Allah dan hari kiamat, maka apabila dia menyaksikan suatu peristiwa, hendaklah dia menanggapi dengan baik atau diam. Bijaksanalah membimbing wanita, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bahagiannya yang paling bengkok ialah yang sebelah atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, niscaya dia patah. Tetapi jika engkau biarkan, dia akan senantiasa bengkok. Karena itu bijaksanalah membimbing wanita dengan baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hidup ini akan selalu menyapu kesejukan dan keteduhan dalam diri kita semua. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan senantiasa diberkahi Allah Swt. Aamiin, Ya Rabbal aalamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku pada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim 14:41)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/358511380439255505-6526683640903997887?l=hadehate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hadehate.blogspot.com/feeds/6526683640903997887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=358511380439255505&amp;postID=6526683640903997887&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/6526683640903997887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/358511380439255505/posts/default/6526683640903997887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hadehate.blogspot.com/2007/11/dari-ibu-kita-belajar-mengenal-allah.html' title='Dari Ibu, Kita Belajar Mengenal Allah'/><author><name>amangtea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15999270219513599370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_pOR3ti-xWKs/R-dKRy5s7_I/AAAAAAAAAAM/IHVPXBvjbNA/S220/Kaos+Transformers-PTH_unframed.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
